Gelisah – part 2
Nov 13,2011 - by
Naskah Al-Quran terjemahan merah jambu kesayangannya itu dicapai. Mungkin kata-kata cinta Sang Pencipta mampu memberi setitis ketenangan buat jiwanya yang resah ini.
“Allah Maha Lembut terhadap hamba-Nya. Dia memberi rezeki kepada sesiapa yang Dia kehendaki, dan Dia Maha Kuat Maha Perkasa”
[Az-Zumar;42:20]
Mengalir air matanya memikirkan kelembutan Allah itu. Allah pasti tidak akan mengecewakan hamba-Nya yang berharap kepada-Nya. Itu pasti! Lantas diteruskan pembacaan itu.
“dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Orang-orang yang ingkar akan mendapat azab yang sangat keras.”
[Az-Zumar;26]
Bergetar hati tatkala membaca ayat-ayat Allah ini. Janji Allah memperkenankan permintaan hamba-hamba-Nya cukup untuk membuatkan hati berbunga kembali. Allah. Masih ada harapan buat diriku ini, getus hati kecilnya.
Namun, ketika membaca sambungan kepada janji tersebut, jiwanya terus tersentak.
“Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, nescaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Teliti terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya, Maha Melihat”
[Az-Zumar;42:27]
“Ya Allah, akukah itu? Akukah hamba-Mu yang melampaui batas setelah Engkau beri nikmat kesenangan di bumi-Mu ini? Apakah itu sikapku selama ini, sehingga kini, sukar untuk aku merasai walau secebis ketenangan dalam hatiku?” hati kecil itu berbicara sendiri.
Teringat ayat-ayat Allah yang lain yang berbicara tentang manusia ingkar setelah Allah beri kesempatan dan pertolongan.
“Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh-kesah, dan apabila mendapat kebaikan, dia menjadi kikir”
[Al-Ma’arij;70:19-21]
Dan kini, dia keliru. Ingin meminta kemudahan dan nikmat, namun bimbang andai nikmat itu membawa kepada keengkaran terhadap Al-Khaliq. Ingin meminta, namun risau sekiranya nikmat yang diminta bakal menjadi istidraj yang bakal membawanya lebih jauh daripada Yang Maha Kuasa. Ingin meminta dunia, namun risau bekal di akhirat sana kelak.
“Ya Allah, aku mohon petunjuk-Mu, andai Engjau perkenankan aku nikmat dunia ini, letakkanlah dunia di tanganku, bukan di hatiku”, perlahan bibir itu menuturkan bicara walaupun tanpa suara.
Comments
comments
Recent Comments