Dr Yusuf Qardawi: Hari-hariku di Penjara Perang

Dr Yusuf Qardawi: Hari-hariku di Penjara Perang

                Satu tahun lebih aku tinggal di salah satu sel penjara militer. Di sebuah kamar sempit, berukuran dua setengah meter persegi. Kamar sempit itu dihuni delapan ikhwan. Aku dan tujuh orang ikhwan lainnya. Saat melewati musim dingin, keadaan ini mungkin menguntungkan. Di waktu malam, tubuh kami bias bertumpuk, dan saling menghangatkan. Namun sangat menyiksa untuk kegiatan lainnya. Untuk meluruskan kaki saja sangat sulit, apalagi melakukan sholat jama’ah. Ini salah satu penyiksaan mental yang diterapkan pemerintah Jamal Abdul Nasser, kepada para ikhwan.

                Hamzah Basyuni, direktur penjara perang dan para algojonya memiliki seni tersendiri dengan menggunakan semua sarana untuk menyiksa kami. Beberapa hari lalu, polisi penjara mendatangi kami dan menggeledah sel-sel tahanan. Mereka merampas semua kitab yang sempat kami bawa ke penjara. Kitab yang sebelumnya sangat berguna untuk mengisi waktu dan belajar. Karena bagi mereka yang pernah merasakan hidup di penjara pasti merasakan bahawa waktu di penjara berjalan sangat lambat. Kami jadi mengerti syair cinta yang mengatakan “waktu satu jam terasa satu bulan. Satu malam seperti satu tahun.” Aku membawa dua buah kitab ke penjara, kitab Al-Muwafaqat karya Asy Syathibi dan kitab I’lam al muwaqi’in karya Ibnul Qayyim rahimahullah. Kedua kitabku diambil paksa oleh polisi penjara.

                Beberapa hari kemudian, mereka melakukan penggeledahan lagi. Hampir setiap ikhwan di penjara ini mempunyai mushaf sendiri-sendiri yang mereka bawa. Al-Quran itulah yang menjadi wirid harian mereka, yang mereka baca sesanggupnya di penjara. Setelah kitab-kitab kami disita, sudah tentu pikiran kami hanya tertumpu pada membaca Al-Quran, mempelajari isinya dan menghafalnya. Selanjutnya, tidak ada sel penjara ketika itu yang sepi dari bacaan ayat-ayat Allah yang dilakukan para ikhwan di dalam sel. Mereka umumnya menguasai pembacaan Al-Quran dengan baik, dan mengetahui hukum tajwid. Mereka juga dapat mendekatkan diri pada Allah dengan membuat halaqah Al-Quran yang mengajarkan ikhwan yang lain dari ilmu Al-Quran dari yang mereka miliki.

                Keadaan ini segera tercium oleh basyuni dan anak buahnya. Mereka mendengar bagaimana sel-sel penjara yang berdengung oleh lantunan Al-Quran seperti dengungan lebah. Mereka juga menyaksikan bagaimana Al-Quran menjadi teman intim para ikhwan di penjara. Mereka melihat bagaimana Al-Quran telah menjadi belahan hati para Ikhwan dan pelita cahaya dalam hati yang dapat menghilangkan kesedihan mereka. Dan Basyuni sangat murka melihat keadaan itu. Ia segera memerintahkan anak buahnya untuk mengumpulkan seluruh mushaf yang dimiliki para tahanan. Mereka masuk ke semua sel dan menggeledahnya. Seluruh mushaf Al-Quran itu dikumpulkan di halaman penjara. Seorang petugas penjara, menyiram tumpukan mushaf itu dengan minyak dan membakarnya!

                Penjara perang. Begitu sulit melukiskan kengerian yang ada di dalamnya. Sulit diurai dengan kata-kata karena sulit menemukan kalimat yang sesuai dengan kenyataan. Penyiksaan yang dilakukan atas para ikhwan begitu memilukan. Aku menyaksikan sendiri bagaimana para ikhwan mengalami penyiksaan berat yang berbeda-beda. Siksaan yang paling berat biasanya ditimpakan pada mereka yang dalam interogasi mengakui beberapa pengakuan spesifik. Atau mereka yang dianggap memiliki rahasia yang disembunyikan pada saat interogasi.

                Sebagian mereka yang disiksa mungkin tidak memiliki rahasia atau informasi sebagaimana yang dituduhkan. Akan tetapi mereka harus tetap mengakuinya dengan khayalannnya sendiri. Itu dilakukan agar siksaan itu bisa dihentikan atas mereka. Ada juga ikhwan yang mempunyai rahasia dan informasi, tetapi ia ingin melindungi ikhwan yang lain dari penjara, penyiksaan dan hukuman.

                Inilah yang dilakukan saudaraku Syaikh Muhammad Daeb, seorang mahasiswa fakultas Syari’ah di Al Azhar/ Ketika ia tahu bahwa dirinya termasuk buronan pemerintah, ia berfikir untuk bersembunyi di rumah seorang tokoh besar Syaikh Hasanain Muhammad Makhluf, Mantan Mufti Mesir.

                Beliau menyampaikan permasalahannya pada Syaikh dan Syaikh menerima permintaannya meskipun hal itu sangat beresiko. Beliau menginap beberapa lama di rumah Syaikh dan sempat berganti nama dengan Shadiq Afandi. Kemudian Akh Muhammad mencari kartu visa dengan nama palsu dan pergi ke Jeddah. Ternyata kedutaan besar Mesir di Jeddah mengetahui tindakan itu. Beliau pun akhirnya ditangkap, dikembalikan ke Kairo lalu dijebloskan ke penjara perang.

                Beliau memasuki tahap introgasi dan ditanya tentang siapa yang membuat kartu paspor ke Jeddah, siapa juga yang membantunya sampai bisa berangkat ke Jeddah. Setelah mengalami siksaan terus menerus akhirnya beliau mengatakan siapa yang membantunya pergi ke Jeddah. Tapi ada satu pertanyaan penting yang tidak dijawab oleh Syaikh Muhammad Daeb, soal dimana beliau tinggal dan bersembunyi sekian lama sebelum berangkat ke Jeddah.

                Karena beliau gusar sekali jika ada bahaya yang menimpa Syaikh Makhluf karena dirinya. Tapi karena menolak menjawab, beliau mendapat siksaan yang teramat hebat. Setiap kali beliau diam dan tidak menjawab, maka siksaan bertambah keras.Namun beliau tetap tutup mulut. Sebenarnya beliau orang yang kuat menahan pukulan meskipun siksaan begitu hebat dan lama. Tetapi pada siksaan selanjutnya beliau tidak mampu menahannya, karena siksaan itu ditimpakan di atas tubuh beliau yang sudah penuh luka oleh siksaan sebelumnya. Di sinilah siksaan menjadi sangat menyakitkan dan sulit ditahan oleh manusia manapun juga!

                Inilah yang dialami Syaikh Daeb, dan kebanyakan para ikhwan yang disiksa. Hingga ada seorang ikhwan yang melihatnya mengatakan: “Tubuhnya menjadi seperti seonggok daging yang penuh sayatan luka, bersimbah darah, nanah yang bercampur darah….”

                Jika ada perintah untuk membawa Syaikh Daeb, dari sel penjara ke ruang introgasi, para sipir penjara umumnya menolak atau ragu-ragu. Syaikh Muhammad sudah tidak bisa berjalan dan mereka juga tidak bisa membawanya ke ruang introgasi, karena tubuhnya penuh luka. Akhirnya mereka menyediakan gerobak sampah untuk membawa Syaikh ke ruang introgasi. Namun hal ini hanya berlangsung selama beberapa hari, karena luka yang dialami Syaikh Daeb benar-benar telah merosak tubuhnya, membuat rasa sakit, yang akhirnya meninggalkan tubuhnya. Beliau akhirnya menghadap Allah SWT. Mengadu pada Allah SWT tentang kekejaman seorang manusia kepada saudaranya. Kebiadaban bangsa Mesir, kepada saudaranya bangsa mesir!

                Penjara Mesir tahun 1954 yang lalu, telah menjadi saksi bisu atas kebiadaban dan kekejaman yang amat mengerikan. Sebuah epos perjuangan da’wah yang teramat panjang. Namun akan terus berulang dan berulang. Lalu bagaimana kita?

                Wallahu’alam

                Diambil dari buku kenanganku bersama Ikhwanul Muslimin Jilid 2

They shed blood along their journey to meet Him, what about us? What are we going to present during the Day of Judgement? 

Comments

comments

One Response to “Dr Yusuf Qardawi: Hari-hariku di Penjara Perang”

  1. Mr.Hope

    Aug 29. 2012

    Subhanallah, melihat penjara Mesir, ianya begitu menakutkan.

    Maka, kita yang selesa selalu saja leka dibuai nikmat nan menggunung.

    Allah..

    Reply to this comment

Leave a Reply