3S: Superman… Semut….S…???

SUPERMAN

Apakah yang sering anda fikirkan apabila menonton kisah ajaibnya sang Superman?

Mungkin, ada yang tertanya-tanya, kenapalah ‘kurang pandai’ sangat orang-orang Metropolis hingga tak boleh nak bezakan antara seorang Superman dengan seorang Clark Kent.

Mungkin yang lain pula tertanya-tanya, siapakah pereka fesyen pakaian Superman, hingga pakaian itu bukan sekadar tidak koyak dirobek desingan peluru, bahkan fesyennya pun serba pelik, dengan spentot merahnya di luar, sambil mengikat tuala merah di tengkuk, entah apa yang berlegar di kepalanya?

“Untuk tawadhu’”, mungkin. Atau, tertanya-tanya tidak pernahkah Clark kent kena ‘warning letter’ lantaran selalu “ponteng” kerja, demi tugas murninya menyelamatkan dunia. Bagi saya, antara yang berlegar di kepala otak saya begitu anda menyebut nama Superman ialah berkaitan ‘super-power’ yang dimiliki olehnya. Iaitu kuasa pendengarannya. Dengan keupayaan pendengar luar biasa yang dimiliki oleh seorang Superman, bagaimana ia bisa menyaring di antara kata-kata yang penuh lagha (sia-sia) dengan jeritan penting memohon pertolongan?

Mari kita kembali menatapi sejarah sejenak. Sebelum hadir perwira Superman dengan keajaiban pendengarannya, ALLAH merakamkan seorang lagi perwira “S” di dalam kalam agung-Nya.

Itulah Sulaiman. Nabi Sulaiman A.S. Bayangkan, dengan segenap tentera memenuhi ruang lingkup penglihatannya, bukan sekadar di kalangan manusia, bahkan dari kelompok jin, angin, hatta binatang pun, semuanya menjadi tenteranya nan setia. Tarzan pun pasti mengaguminya. Namun, bagaimana bisa jeritan sang semut kecil pula, yang bisa ditangkap olehnya?

“Hingga apabila sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut; “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tenteranya, sedang mereka tidak menyedari” (Surah an-naml [27]:18)

Jawabnya mungkin satu: ketawadhukan! Sikap rendah diri dan sedia mendengar inilah, yang menjadikan seorang raja sekaligus nabi nan agung ini, bisa mendengar kata-kata insan kerdil sekaligus orang bawahannya itu. Ia tak menjadikan kedudukan dan ketinggiannya sebagai wasilah untuk ia angkuh, bahkan ia pohon pula pada ALLAH


“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu, yang telah Engkau anugerahkan untukku” (Surah an-Naml [27]:19)

Bagaimana pula dengan diri kita, berapa ramai orang bawahan yang makan hati dengan majikannya? Berapa ramai pula mad’u yang terpaksa mengorbankan potensi yang dimilikinya, hanya lantaran berbeza dengan pendapat peribadi murabbi atau naqibnya? Atau, berapa ramai pula di antara kita memenuhi gegendang telingan dengan perbicaraan sia-sia, berbanding lantunan firman, zikir-zikir, atau hal-hal mempertahankan agama?


“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan perbicaraan yang lain..” (Surah al-An’am [6]:68)

Maka sifirnya begini: saringan. Kemudian merespon. Saringan menunjukkan kepada kita bagaimana para hero-hero mukmin sejati meletakkan priority. First things first. Fiqh awlawiyyat. Perbicaraan mereka tidak dibazirkan pada sesuatu yang –bak kata Hassan al-Banna- tidak mengantarkan mereka ke medan amal. Dan kemudian, respon. Merekalah hero-hero yang menyahut panggilan umat ini.


“Hai orang-orang beriman, sahutlah seruan ALLAh dan seruan rasul apabila rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberikan “kehidupan” kepada kamu..” (Surah al-Anfal [8]:24)

Rahsianya: tawadhuk! Rendahkanlah egomu (tawaduklah) untuk mengutip serpihan-serpihan tarbiyah yang berselerak di sekitarmu. Dengan merendah, anda bisa belajar. Dan dilimpahi doa-doa orang-orang kerdil dan bawahanmu. Merendahnya dirimu, bahkan menjadi asbab semakin tinggi derajatmu. Jika pun tidak di mata manusia, tentu dihargai di sisi yang Esa.

Merendahlah,
engkau kan seperti bintang-gemintang
Berkilau di pandang orang
Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi

Janganlah seperti asap
Yang mengangkat diri tinggi di langit
Padahal dirinya rendah-hina

Encik superman, sudahkah anda dikurniakan ilham untuk tunduk bersyukur dengan nikmat Tuhanmu?

Penulis asal: Ir. Faridul Farhan Abd Wahab
Blog penulis: Tadabbur al-Engineer

Comments

comments

No comments.

Leave a Reply